Menjadi Relawan #IDWomen4Energy

Indonesia, satu negara kaya yang tidak tuntas dibahas dalam semalam, tidak khatam ditulis melalui bab-bab buku.

Indonesia adalah perjalanan yang harus dikerjakan, ialah rasa yang harus dikecap, ia adalah cinta yang mesti dikecup. Dari ujung barat hingga ke timur, di atas setiap jengkal tanah dan manusianya.

Sebanyak mungkin saya ingin mendatangi desa-desa dan kota-kota di Indonesia, untuk mengenal keberagaman dan kekayaannya, agar tak sekedar menjadi pajangan buku-buku romantisme sejarah dan booklet wisata. Perjalanan itu lebih bermakna ketika saya tidak hanya datang untuk berpose, berfoto lalu pergi meninggalkan daerah yang dikunjungi tanpa berkontribusi atau setidaknya berinteraksi dengan kearifan lokal setempat.

Berjalan-jalan sembari menjadi relawan.
Program #IDWomen4Energy yang ditawarkan oleh Kopernik menarik perhatian saya. Mengunjungi daerah eksotik di Timur Indonesia, sekaligus dapat tinggal di rumah Ibu Inspirasi untuk belajar dari aktivitas beliau dalam memperkenalkan produk energi alternatif khususnya listrik yang masih terbatas di sejumlah wilayah timur Indonesia.

Saya pun mendaftar, mengisi aplikasi online, memposting video dan mengunggah sosok perempuan inspiratif dalam hidup saya.

Screen Shot 2017-09-17 at 11.34.45
Screen Shot 2017-09-17 at 11.34.23

Kemudian saya menjalani wawancara via skype dan selang sepekan dikabarkan bahwa saya terpilih sebagai satu dari tiga volunteer #IDWomen4Energy yang akan berangkat ke Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 5-15 Juli 2017.Screen Shot 2017-09-17 at 11.13.01.png

Selang dua hari pasca mudik lebaran Idul Fitri dan bekerja, saya kembali mengemas tas menuju satu kota indah di Pulau Timor dengan misi membantu Ibu Inspirasi dalam upaya mengatasi keterbatasan akses energi di daerah-daerah terpencil.

Kefamenanu here i come…

FTMS2275.JPG
Tiba di Bandara Internasional El Tari Kupang, NTT

Rekan-rekan,
Jangan sekedar membaca, ikutlah mendaftar menjadi Volunteer #IDWomen4Energy 2018, dan rasakan sendiri pengalaman menakjubkan.

Best,
Fitri Mayang Sari
@fitms89

Advertisements

How Many Languages Do You Speak?

I love languages and accents, and admired those who speaks several languages. Some Europeans I know well usually speak 3-5 languages. For example, my friend Michael Thomas is a native German who speaks Spanish, French, English, and Indonesian. Halima Scott Achón is a native Spanish and English speaker who is fluent in French, Catalan, and Indonesian. Dinah Abd El Aziz is a Germany who speaks French, English, Arabic, and a bit Indonesian. Not only European, Indonesian too, let’s see Lana who speaks Indonesian, English, Dutch, and German. Atika Suri Fanani is a native Padangnese and fluently in French, English, and off course Indonesian.

Until then Melina Natalie reminds me that not only Lana, but most Indonesians were born as multilinguist, at least speaking her/his mother tongue and bahasa Indonesia. I think it’s true due Indonesia has more than 700 traditional languages. For myself, I was born speaking bahasa Linggau, and naturally learning bahasa Indonesia from school and TV news. Meanwhile the native Linggaunese itself speaking the other local language called ‘bahasa Col’ which I learned when I was 7 years old. My parents are from Pagaralam and speak ‘bahasa Melayu’, I’m not fluent but understand and able to speak. Other languages I learned from friends and neighbors are Padangnese and Javanese, though I don’t speak it fluently but I able to immitate the accents.

Nevertheless, some of my school friends were not confidence with the local languages they have, because of the strong local accents influence their Indonesian accent. I remember a friend was hardly hid her local language because she was afraid to be mocked. It was a pity. Linguistic is one of intelligence, and instead should be praised. We shall be proud to our cultures and languages.

Another thing is that many Indonesian become less confidence when it comes to learn English or any language from other countries. They think they’re incapable, not smart enough, hard, and just can’t. Thus, I want to shout out loud to my Indonesian fellow, “You were born multilinguist!” If you think you are not smart enough, please count how many languages you are speaking today. Again, it is intelligence.

For these reason, and to preserve the local languages, I am starting this video program asking “How Many Language Do You Speak?”

If you are a multilinguist and willing to share your languages, please do not hesitate to contact me 🙂

_Fits

Banda Neira: Spices Island, Beauty & History

This is a resume video from my recent trip with my very good friend, Melina Natalie in Banda Neira, Maluku, Indonesia or was once famous as ‘Spices Island’. Melina and I also visited Hatta Island, name after Indonesian first vice president. Yet not fortune enough to make our way to Rhun, the island which was traded for Manhattan, New York to British empire by the Dutch.

S P I C E S
It was once more valuable than gold at the time, driven portuguese, dutch, british, sailed all the way from Europe to any part of the world that produced it, and Banda Neira was the place. Long before European arrived, people of Banda has estbalished an international trade with Indian, Arabs, and Chinese. There was even a small Chinese town in Banda, could be seen from some architectures which are remained up to today.

I’d like to highlight that Banda neira was the island where the Dutch landed for the very first time in 1569 for then change the rule of spices trade into domination, monopolistic, bloody genocide,and finally colonize a country which later on named as “I N D O N E S I A”.

Here in Banda Neira, Mohamad Hatta, later become the first Indonesian vice president, was exiled (1936-1942) along with other Indonesian prominent such as Sutan Sjahrir, dr. Tjipto Mangunkusumo, and Iwa K. Soemantri.

 

How to get to Banda Neira:
If you are from abroad, first you need to fly to Jakarta.
Fly to Ambon from Jakarta.
Taking a fast ferry from Pelabuhan Tulehu (port).
The fast ferry to Banda Neira is every Saturday and Tuesday (9AM), IDR 410,000 = USD 31.
The fast ferry returns to Ambon every Sunday and Wednesday (9AM), IDR 415,000.
The ferry journey is 7-8 hours.

There is also a slow ferry from Pelni and cheaper (IDR 105,000 = USD 8), it sails once in every two weeks. You can check its schedule here.

Pria Baya Di Jenewa

Pada suatu petang di tempat terbuka, saya terkesima melihat seorang pria baya menggelar alas mengenakan sarung mendirikan shalat di kaki langit Jenewa yang mulai remang-remang. Dasar turis, saya menggapai kamera diam-diam mengabadikan pemandangan di depan mata. Saya yang seagama, saya yang norak. Penduduk setempat yang kebanyakan tak peduli agama, kristen atau katolik tapi tak ke gereja, agnostic dan ateis terserah mau dipanggil apa, malah tak peduli dengan pria baya bersarung yang khusyuk dalam shalatnya.

Kenapa aku yang “beriman” justru terusik perjalanannya dengan shalat si pria baya? Ah hampir lupa, di negaraku ibadah harus di tempat yang tlah tersedia, tempat terbuka macam jalanan dan fasilitas umum lainnya, bukan tempat ibadah. Shalat pria baya itu tidak sah! Dan kenapa orang Jenewa tak menghentikan shalat pria baya itu!!! Betapa bodohnya…

Djakartaku, 9 Desember 2016.
Fit MS

dscf1610adscf1614a

 

 

Cara Perpanjang Paspor Online

Perpanjanglah paspor Anda sebelum tergesa-gesa! *true story

Secara umum, persyaratan untuk ke luar negeri maupun mengurus visa adalah masa berlaku paspor minimal 6 bulan. Bagi pemegang paspor Indonesia, untuk mengunjungi negara ASEAN syarat paspor adalah masa berlaku minimal 6 bulan, sedangkan untuk ke Eropa minimal 8 bulan. Begitulah peringatan yang muncul di layar tiket.com. *khusus negara Spanyol, masa berlaku paspor hanya minimal 3 bulan di atas masa tinggal di sana.

Jangan panik, cara mengurus perpanjangan paspor ataupun membuat paspor baru sebenarnya sangat gampang, asalkan kita punya waktu yang cukup, minimal 1 minggu sebelum tanggal keberangkatan (ini saja sudah bikin deg-degan), yaudah katakan saja 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan di tiket pesawat. Lebih dari 2 minggu, ya lebih baik bagi kesehatan, tidak jantungan menunggu paspor selesai.

A. Siapkan dokumen persyaratan:

  1. Fotokopi KTP
  2. Fotokopi Akte Kelahiran
  3. Fotokopi Kartu K eluarga
  4. Fotokopi Paspor lama

Tambahan: Bawa dua materai. Satu untuk formulir saat di kanim. Kedua untuk surat pernyataan jika Anda hendak tetap menyimpan paspor lama. Jika paspor lama Anda masih memiliki Visa yang valid (masih berlaku), maka otomatis paspor lama akan dikembalikan, namun tetap perlu mengisi surat pernyataan. *Surat pernyataan telah disediakan, tinggal isi nama dan data serta tanda tangan.

Tips: Persiapkan dokumen ini dari rumah. Di kanim ada layanan fotokopi dan jual materai, namun antriannya bisa panjang jika sedang ramai. Anda tentu tidak mau buang-buang waktu, kan!

Perhatikan: Keempat dokumen di atas wajib di fotokopi di kertas A4, termasuk fotocopy KTP biarkan saja di kertas A4, tidak perlu digunting. Catet!

Penting: Dokumen Asli dari keempat persyaratan di atas wajib dibawa serta sebagai bukti verifikasi, setelah itu langsung dikembalikan. Satu saja dokumen tidak ada, jangan harap aplikasi bisa diproses *true story.

B. Mendaftar secara online di Layanan Paspor Online

Langkah pertama klik Pra Permohonan Personal, dan ikuti saja langkah-langkahnya selanjutnya. Bingung? Tenang, ada Petunjuk Pengisian Layanan Paspor Onine yang lengkap dan mudah dipahami.

  • Entry Data Diri. Isi dengan teliti, data yang benar dan lengkap.
  • Verifikasi permohonan. Anda akan diminta memilih Kantor Imigrasi (Kanim) untuk submit aplikasi, wawancara dan foto biometrik. Direkomendasikan untuk memilih Kanim Jakarta Selatan, lebih sepi pendaftar (katanya), jadi urusan bisa lebih cepat selesai. Yakinlah nongkrong (baca: ngantri) di kantor imigrasi bukanlah hal yang menyenangkan.
  • Proses Pembayaran. Anda akan diminta membayar biaya paspor yang dapat dilakukan via ATM, internet banking, atau SMS banking. Anda akan diberikan nomor billing Simponi MPN G2. Apa sih Simponi itu? Simponi atau Sistem Informasi PNBP Online adalah fasilitas pembayaran/penyetoran PNBP dan penerimaan non anggaran yang memberi kemudahan bagi Wajib Bayar/Wajib Setor untuk membayar/menyetor PNBP dan penerimaan non anggaran melalui berbagai channel pembayaran seperti teller, ATM, EDC (Electronic Data Capture), maupun internet banking. Uang yang Anda bayar dijamin diterima oleh negara dan tidak dapat dilebih-lebihkan (overprice). Yang rajin dan kepo bisa baca artikel lengkapya di sini http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/setoran-pnbp-lebih-mudah-dan-cepat-simponi (narsis sama kantor sendiri boleh ya sekali-kali!)
  • Konfirmasi tanggal kedatangan. Setelah itu Anda akan menerima email berisi attachment file Tanda Terima Penerimaan, print itu dokumen ya!
  • Datang ke kanim. Dengan membawa print Tanda Terima Penerimaan dan Bukti Pembayaran jika membayar via internet banking, atau Bukti Setor Bank jika membayar di Teller Bank, atau print setoran jika membayar di ATM. Kedua dokumen ini wajib dibawa, dan jangan lupa di fotocopy dulu sebagai syarat pengambilan paspor nanti.

C. Datang ke kantor imigrasi (kanim)

Proses pendaftaran aplikasi di kantor imigrasi dimulai pukul 08.00-10.00 WIB. Lewat pukul 10 pagi, silahkan balik kanan dan datang esok hari. Datanglah sepagi mungkin, ba’da shubuh kalau perlu! Eh serius loh. Kenapa? Karena meski tertulis pukul 8 pagi, antrian di kanim sudah mengular jika Anda datang tepat pukul 8. Jadi datanglah pukul 6 pagi, jika ingin dapat antrian awal-awal. Meski demikian proses wawancara dan foto biometrik tetap dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Oke, mungkin ada yang bertanya, kalau tidak daftar online, kita bisa go show daftar manual di Kanim, tidak? Jawabannya Bisa, cuma antriannya alamaaaaakkk…puanjang bener. Begini sahabatku yang baik hatinya, antrian di kanim itu terbagi atas tiga, yaitu:

  1. Prioritas: lansia, balita, ibu hamil (mereka akan mendapat kode antrian 1, dan dipanggil pertama untuk wawancara, meskipun datangnya setelah Anda)
  2. Manual: yang daftar isi formulir dan bayar di tempat
  3. Online: yang daftar mengikuti cara poin B di atas

Ilustrasi:
Saya datang pukul 7 pagi, dengan kondisi bangku antrian sebagai berikut:
Prioritas: ada sekitar 30 orang
Manual: ada sekitar 40-50 orang
Online: hanya sekitar 10 orang, jumlahnya memang selalu lebih sedikit dari antrian manual, karena mungkin pendaftaran online masih dianggap membingungkan dan banyak yang gagap teknologi.
Antrian fotokopi: sekitar 15 orang. Karenanya persiapkanlah fotocopy dokumen dari rumah. Sebab setelah dari fotokopi masih banyak antrian yang harus Anda ikuti.

Pertama, antri untuk foto dan ambil nomor antrian penyerahan berkas.
Kedua, antri untuk verifikasi berkas.
Ketiga, antri untuk diwawancara dan foto paspor.
Selesai. Ke semua ini memakan waktu 1.5 jam. Ini karena saya datang pagi jam 7 dan mendaftar online. Jika sudah ramai, tanggung sendiri antriannya.

Anda telah berhasil mengurus aplikasi paspor, apabila sudah diwawancara dan difoto. Setelah itu Anda akan diminta datang 3 hari (dengan catatan sistem tidak bermasalah) kemudian untuk mengambil paspor baru. Jika sistem mengalami kendala, proses paspor bisa berlangsung hingga 5 hari, begitu kata petugas di kanim.

D. Mengambil Paspor Baru

Setelah diwawancara pada hari Selasa, maka tiga hari kemudian atau hari Jumat saya datang kembali dan paspor baru saya telah selesai. Proses pengambilan paspor mulai dari pukul 10.00-16.00 WIB.

Datanglah pukul 06.00 WIB untuk mendaftar nomor antrian awal, atau sekitar pukul 14.00  atau 15.00 saat antrian sudah mulai sepi.

Catatan pribadi:

Meski telah jauh lebih baik dari 5 tahun lalu saat saya membuat paspor pertama kali di Kemayoran, Jakarta Pusat yang memakan waktu seharian dan selesai 7 hari. Sekarang hanya 1.5 jam dan selesai 3 hari. Masih banyak hal yang dapat diperbaiki oleh Kantor Imigrasi untuk memperpendek proses aplikasi, hal-hal berikut yang menjadi perhatian saya:

  1. Saat ini ada tiga tahap, yakni pengambilan nomor antrian, verifikasi berkas sekaligus, dan wawancara. Tahapan pengambilan nomor antrian dan verifikasi berkas dapat digabung sekaligus.
  2. Masa urus perpanjang paspor dapat dipersingkat menjadi 1 hari. Saya sempat menghubungi biro jasa dan mereka dapat menjanjikan paspor baru selesai dalam 1 hari, hanya saja biayanya 5 kali lipat. Jika dengan biro jasa bisa 1 hari, maka sebenarnya paspor bisa selesai 1 hari, lantas kenapa harus memakan waktu 3 hari.
  3. Perpanjangan paspor seharusnya tidak perlu memakan waktu antri lama bahkan 3 hari proses. Apabila sistem database kantor imigrasi bagus, maka seharusnya paspor yang sudah diterbitkan datanya tercatat lengkap, sehingga proses verifikasi dari sana saja, kecuali terdapat perubahan data dari pemohon. Sayangnya saya harus mengikuti tata cara seperti membuat paspor pertama kali, baik dokumen maupun antrian.
  4. Saya mendaftar online dan telah mengisi data secara lengkap, eh sampai di kantor imigrasi disuruh isi formulir manual lagi. Yaelah, pengen gigit sepatu. Pendaftaran online hanya membantu memperpendek antrian saat di kanim, selebihnya sami miwon dengan manual.
  5. Terdapat 6 loket wawancara, namun yang buka hanya 2-3 loket, hal ini semakin memperlama antrian. Setelah pukul 9 ke atas, baru seluruh loket buka.
  6. Sebaiknya untuk antrian prioritas disediakan loket khusus, sehingga adil bagi yang sudah mengantri dari pagi sekali.
  7. Mohon banner dengan foto Pak Menteri dikurangi, xixi… Kita mah cuma perlu urus paspor mudah dan cepat, bukan foto Pak Menteri.
  8. Saya hendak mengacungkan jempol untuk alur pengurusan paspor yang lebih jelas. Ruang tunggu juga lebih baik. Loket wawancara dan foto sudah terbuka, tidak disekat-sekat seperti dulu. Namun, toiletnya boleh dong ditingkatkan lagi, hehe..

dscf0924

Cumlaude Studio, 8 Oktober 2016.
Fit MS

[TRAVEL] Ke Luar Negeri. Bagaimana Memulainya?

Saya menerima sejumlah permintaan untuk membagikan pengalaman tentang perjalanan yang telah saya lakukan khususnya di luar negeri. Mulanya saya kurang berkenan bercerita tentang bagaimana-bagaimana apalagi hingga biaya dan rinciannya, karena sudut pandang manusia berbeda-beda dan tidak semua orang berpikiran terbuka. Kemudian saya merenung, bahwa saya tidak mampu mengubah pemikiran orang yang tidak mau berubah, namun saya dapat membantu orang lain yang memang membutuhkan pengetahuan. Sehingga saya putuskan untuk mencoba menuliskan satu per satu pengalaman yang dapat saya bagikan dan saya berharap dapat menjadi manfaat. Lalu saya berpikir harus mulai menulis dari mana. Saya merunut akar masalah dan saya rasa kita semua harus memulainya dari sejak pikiran, dari cara berpikir yang benar, dari sudut pandang yang lebar. Begitulah akhirnya judul tulisan ini muncul: Ke Luar Negeri. Bagaimana Memulainya?

Mulailah perbuatan baik dengan bismillah, dengan nama Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari sejak pikiran, inilah cara ke luar negeri, 3N: Niat, Nekat, dan Nikmati.

*Tulisan ini bukan hal teknis, namun hal prinsip yang harus dimiliki. Hal-hal berkenaan teknis, akan kita bahas di postingan lainnya, ok 🙂

1. Niat
Pasanglah niat yang baik dan selalu berpikiran positif bahwa kita bisa meraih apa yang kita niatkan. Niat tidak harus selalu dinyatakan, desiran di hati yang tak terucap pun tanpa disadari telah menjadi niat. Kita boleh bertanya “apakah mungkin?” dan “bagaimana?” namun jangan pernah katakan “tidak mungkin” atau “mustahil”.

Jika Anda belum punya niat, maka carilah inspirasi. Sebuah artikel Rhenald Kasali berjudul Passport mendorong saya untuk membuat paspor pada Januari 2012 dan pergi ke Malaysia sebulan kemudian dengan berbekal uang tabungan selama tiga bulan. Visi saya hanya satu yaitu melihat dunia selain Indonesia. Itulah perjalanan ke luar negeri pertama saya.

September 2012. Saya menerima souvenir tembikar berpahat jendela Alhambra bertuliskan GRANADA dari seorang sahabat, Halima. Saya tak pernah menyatakan saya hendak ke Granada. Namun dalam hati selalu penasaran bagaimanakah puasa di sana dan merayakan lebaran bersama Halima dan keluarganya dan kaum muslim minoritas Granada. Rasa penasaran ini muncul karena Halima hanya pulang kampung setahun sekali, saat Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri.

DSCF6026
Tembikar Granada

Hampir setiap hari saya memandangi tembikar Granada yang terpajang di meja kantor, meski pernah juga terabaikan dan terlupakan di dalam laci meja, hingga saya menemukannya lagi dan kembali memandanginya sesekali. Selain itu, wallpaper tablet saya pun dihiasi foto-foto Istana Alhambra di Granada. Voilà, tiga tahun kemudian atau di tahun 2015 saya benar-benar berkunjung ke Alhambra. Dan bahkan di tahun 2016 ini saya bisa merasakan nikmatnya berpuasa Ramadhan di Granada dan merayakan Idul Fitri di Orgiva bersama komunitas muslim Spanyol dan sekitarnya.

 

Tahun 2014 saya menjamu dua orang turis dari Madrid dan Bilbao, sebelum pulang seorang di antara mereka berkata kepada saya, “kamu akan mengunjungi saya (di Spanyol)!”. Saya menjawab “I would love to” meski dalam hati bertanya-tanya “bagaimana?” karena biaya ke sana tentu tidak murah. Voilà 2015 saya benar mengunjungi kedua orang tamu ini di kota mereka masing-masing, Madrid dan Bilbao. Orang yang berpesan kepada saya tersebut menyambut saya dengan, “I knew you will come. I always knew!” Saya tersanjung dan berterima kasih atas doa dan keyakinannya. Saya tidak menyangka bahwa saya benar-benar mengunjunginya.

2. Nekat
Tanpa kenekatan rasanya tidak akan ada perjalanan yang saya buat. Alasan finansial selalu akan menjadi penghalang terbesar bagi saya, dan mungkin juga bagi sebagian besar Anda. Niat awal saya ke Eropa adalah untuk mengambil  summer course bahasa Spanyol di Granada. Namun saya tidak yakin, apakah worth it kursus jauh-jauh dan mahal dan tidak menjamin saya pandai berbahasa Spanyol setelah itu. Kenekatan saya baru muncul, ketika Melina sahabat saya yang tinggal di Puerto Rico mengatakan bahwa ia akan reuni dengan Halima dan Maria di Spanyol, dua sahabat saya lainnya. “Hoho..kalian tidak bisa reuni tanpa saya,” balas saya. Jika dikaitkan dengan inspirasi pada poin No. 1, maka memiliki teman-teman yang tinggal di luar negeri ini merupakan salah satu inspirasi saya untuk ke Eropa. Secepat kilat saya melihat saldo tabungan “ini cukup”, kata saya pada diri sendiri, dan saya melihat jadwal libur kuliah “cocok!” Bismillah saya berangkat.

Tarik ulur niat dan kenekatan terus berlangsung hingga tiket ke Eropa telah benar-benar saya beli. Pertanyaan seperti “Apakah ini layak? Apakah ini pemborosan? Gaya banget kamu liburan ke Eropa, udah kaya banget apa?” terus melanda kepala saya. Belum lagi mendengar celetukan emak “duh duit segitu!” bikin hati makin galau. Untungnya mama saya cukup terbuka dan bisa diajak berdiskusi, akhirnya beliau mampu memahami penjelasan saya. Saat itu Euro sedang mahal-mahalnya berkisar di angka Rp 16.100, otomatis pertanyaan finansial kembali menghalangi. Saya menenangkan diri dan kembali kepada poin pertama, apa Niat saya ke Eropa, “untuk bergaya, sekedar berfoto ria, atau mencari ilmu dan pengalaman baru ke belahan bumi Allah yang tak pernah saya lihat? Serta untuk menyambung silaturrahim?” Uang saya tidak banyak, namun itu cukup untuk membiayai perjalanan saya dan sepulang dari Eropa inshaAllah masih bisa bertahan tanpa minta-minta ke orang tua, tetangga, atau rekan-rekan kuliah, hehe… Kesimpulan saya: uang ada, tubuh sehat, waktu punya, itulah rezeki manusia sesungguhnya. Syukuri saja, karena mungkin ada yang punya uang namun tak punya waktu, atau punya uang dan waktu namun tak punya sehat. Bismillah, jadilah saya berangkat.

Pertanyaan dari orang lain tentu banyak seperti “wah kamu kaya banget ya” “habis berapa?” “kenapa ga umroh saja dulu dengan uang segitu?” Tapi ya tugas saya bukanlah menjawab pertanyaan orang lain. Kecuali pertanyaan itu disertai tiket gratis pulang pergi Jakarta-Eropa, maka mari kita bicara empat mata, haha…

3. Nikmati
Apapun yang terjadi, nikmati. Kita harus merencanakan perjalanan dengan baik, akan tetapi tidak semua yang direncanakan berjalan dengan baik. Sehingga, bagaimanapun keadaannya janganlah menyesalinya. Bisa saja, peristiwa di luar rencana itu ternyata lebih baik dari apa yang kita rencanakan. Prinsip saya dalam melakukan perjalanan adalah “living at the present and enjoy the moment”. Ketika saya tidak berhasil mencapai tujuan yang saya idamkan, saya merelakannya, mungkin di lain waktu saya akan kembali. Saat keinginan saya tidak sepenuhnya terwujud, ah tak masalah pasti ada alasannya.

Hujan, panas terik, angin sepoi-sepoi hingga dingin menusuk-nusuk tulang, kejar-kejaran pesawat dan bus, waspada kecopetan, harus bergadang biar tidak kebablasan, tidur di lantai bandara dan kedinginan, kecapaian jalan kaki, kelaparan karena harga makanan super mahal, gagap teknologi di negara maju, kartu kredit di tolak, mati-matian berkomunikasi dalam bahasa tarzan, ditolak saat meminta bantuan, dicurigai, dipandangi karena jilbab yang saya kenakan, tersesat dan kesal tidak ada wifi, miskomunikasi, termasuk kesedihan setiap kali harus mengatakan “Sampai Jumpa” kepada mereka yang saya kunjungi. Semua ini bagian dari perjalanan. Enjoy aja!

Karena semua tidak berjalan sesuai rencana. Maka saya pun kerap menerima kebaikan yang tidak direncanakan, yang membuat saya berkesimpulan bahwa “after all, the world where we’re livin’ in is not that bad”. Di Belanda, seorang pria yang tengah mengayuh sepeda rela berhenti ketika saya meminta bantuan menanyakan arah jalan. Juga seorang pria, yang mengijinkan saya masuk ke pintu trem bersamanya, karena saya begitu lugu dengan teknologi baru. Juga seorang wanita yang bersedia mengisikan saldo kartu trem saya ketika kartu kredit saya tidak berfungsi, dan saya mengijjikan saya membayar tunai kepadanya. Di Spanyol, seorang wanita menunggui saya yang tidak bisa keluar palang pintu kereta karena salah jalur, lagi-lagi saya lugu teknologi. Terakhir di Den Haag dan salah satu yang paling mengesankan yakni pada pukul 1 malam saya terdampar entah di mana, tidak ada trem atau bus lagi, ingin pesan uber tidak punya internet, ingin jalan kaki googlemaps tidak berfungsi, saya berjalan gontai di tengah jalan melawan arus. Kemudian satu mobil berhenti dan mengantarkan saya pulang ke rumah. Saya menikmatinya.

Well itu dulu. Teman-teman yang ingin berpergian baik dalam maupun luar negeri, jika boleh saya menyarankan, maka mulailah dari Niat, lalu Nekat, terakhir Nikmati. Dalam suatu artikel saya menemukan kalimat bahwa “kita akan selalu merasa kekurangan uang” maka jangan terhalang karena masalah keuangan. Bagi saya, “Uang dapat dicari, namun waktu dan sehat tak dapat dibeli.”

Yang tidak memiliki rencana kemana-mana pun ya tidak masalah, tulisan ini tidak mendorong orang untuk bepergian. Secara pribadi, saya pun kurang menyukai istilah kurang piknik yang kerap ditujukan bagi mereka yang tidak suka melakukan perjalanan. Pengetahuan tidak harus berasal dari perjalanan jauh, ia bisa datang dari buku-buku yang dibaca, forum diskusi yang dihadiri, juga bisa dari tetangga sebelah rumah, atau orang asing yang duduk di samping kita di kereta, dari pedagang bakso kaki lima, dan lain sebagainya. Saya pun percaya, semua memiliki prioritas dan keinginan berbeda-beda. Selama kita tidak menilai kebahagiaan orang lain dengan standar kita, ataupun mengukur kebahagiaan kita dengan standar orang lain. Semua bisa bahagia dengan caranya sendiri-sendiri. Itu sudah!

Salam.

Casa Weleri, 26 Juli 2016.
Fitri Mayang Sari

 

EID MUBARAK

Tidak ada arakan takbir keliling ataupun kunjungan ke rumah-rumah keliling. Semua dilakukan secara sederhana dan terpusat di Derga Sufi Haqqani. Buka puasa bersama di Derga, maghrib dan isya’ bersama dan takbiran ala kadarnya. Bahkan ada selingan hiburan akad nikah. Tidak ada bedug atau pengeras suara, namun tak mengurangi semangat beribadah para jama’ah yang tak hanya dari Orgiva tapi juga dari kota-kota terdekat. Tata cara dan gaya hingga menu makanan tentu jauh dari Indonesia.

Tujuan musafir bukan untuk membandingkan, melainkan mengkayakan pengetahuan.

Selamat Idul Fitri

Orgiva, 6 Juli 2016.
Fit MS

 

DSCF2934.JPG