Menjadi Relawan #IDWomen4Energy

Indonesia, satu negara kaya yang tidak tuntas dibahas dalam semalam, tidak khatam ditulis melalui bab-bab buku.

Indonesia adalah perjalanan yang harus dikerjakan, ialah rasa yang harus dikecap, ia adalah cinta yang mesti dikecup. Dari ujung barat hingga ke timur, di atas setiap jengkal tanah dan manusianya.

Sebanyak mungkin saya ingin mendatangi desa-desa dan kota-kota di Indonesia, untuk mengenal keberagaman dan kekayaannya, agar tak sekedar menjadi pajangan buku-buku romantisme sejarah dan booklet wisata. Perjalanan itu lebih bermakna ketika saya tidak hanya datang untuk berpose, berfoto lalu pergi meninggalkan daerah yang dikunjungi tanpa berkontribusi atau setidaknya berinteraksi dengan kearifan lokal setempat.

Berjalan-jalan sembari menjadi relawan.
Program #IDWomen4Energy yang ditawarkan oleh Kopernik menarik perhatian saya. Mengunjungi daerah eksotik di Timur Indonesia, sekaligus dapat tinggal di rumah Ibu Inspirasi untuk belajar dari aktivitas beliau dalam memperkenalkan produk energi alternatif khususnya listrik yang masih terbatas di sejumlah wilayah timur Indonesia.

Saya pun mendaftar, mengisi aplikasi online, memposting video dan mengunggah sosok perempuan inspiratif dalam hidup saya.

Screen Shot 2017-09-17 at 11.34.45
Screen Shot 2017-09-17 at 11.34.23

Kemudian saya menjalani wawancara via skype dan selang sepekan dikabarkan bahwa saya terpilih sebagai satu dari tiga volunteer #IDWomen4Energy yang akan berangkat ke Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 5-15 Juli 2017.Screen Shot 2017-09-17 at 11.13.01.png

Selang dua hari pasca mudik lebaran Idul Fitri dan bekerja, saya kembali mengemas tas menuju satu kota indah di Pulau Timor dengan misi membantu Ibu Inspirasi dalam upaya mengatasi keterbatasan akses energi di daerah-daerah terpencil.

Kefamenanu here i come…

FTMS2275.JPG
Tiba di Bandara Internasional El Tari Kupang, NTT

Rekan-rekan,
Jangan sekedar membaca, ikutlah mendaftar menjadi Volunteer #IDWomen4Energy 2018, dan rasakan sendiri pengalaman menakjubkan.

Best,
Fitri Mayang Sari
@fitms89

How Many Languages Do You Speak?

I love languages and accents, and admired those who speaks several languages. Some Europeans I know well usually speak 3-5 languages. For example, my friend Michael Thomas is a native German who speaks Spanish, French, English, and Indonesian. Halima Scott Achón is a native Spanish and English speaker who is fluent in French, Catalan, and Indonesian. Dinah Abd El Aziz is a Germany who speaks French, English, Arabic, and a bit Indonesian. Not only European, Indonesian too, let’s see Lana who speaks Indonesian, English, Dutch, and German. Atika Suri Fanani is a native Padangnese and fluently in French, English, and off course Indonesian.

Until then Melina Natalie reminds me that not only Lana, but most Indonesians were born as multilinguist, at least speaking her/his mother tongue and bahasa Indonesia. I think it’s true due Indonesia has more than 700 traditional languages. For myself, I was born speaking bahasa Linggau, and naturally learning bahasa Indonesia from school and TV news. Meanwhile the native Linggaunese itself speaking the other local language called ‘bahasa Col’ which I learned when I was 7 years old. My parents are from Pagaralam and speak ‘bahasa Melayu’, I’m not fluent but understand and able to speak. Other languages I learned from friends and neighbors are Padangnese and Javanese, though I don’t speak it fluently but I able to immitate the accents.

Nevertheless, some of my school friends were not confidence with the local languages they have, because of the strong local accents influence their Indonesian accent. I remember a friend was hardly hid her local language because she was afraid to be mocked. It was a pity. Linguistic is one of intelligence, and instead should be praised. We shall be proud to our cultures and languages.

Another thing is that many Indonesian become less confidence when it comes to learn English or any language from other countries. They think they’re incapable, not smart enough, hard, and just can’t. Thus, I want to shout out loud to my Indonesian fellow, “You were born multilinguist!” If you think you are not smart enough, please count how many languages you are speaking today. Again, it is intelligence.

For these reason, and to preserve the local languages, I am starting this video program asking “How Many Language Do You Speak?”

If you are a multilinguist and willing to share your languages, please do not hesitate to contact me 🙂

_Fits

Banda Neira: Spices Island, Beauty & History

This is a resume video from my recent trip with my very good friend, Melina Natalie in Banda Neira, Maluku, Indonesia or was once famous as ‘Spices Island’. Melina and I also visited Hatta Island, name after Indonesian first vice president. Yet not fortune enough to make our way to Rhun, the island which was traded for Manhattan, New York to British empire by the Dutch.

S P I C E S
It was once more valuable than gold at the time, driven portuguese, dutch, british, sailed all the way from Europe to any part of the world that produced it, and Banda Neira was the place. Long before European arrived, people of Banda has estbalished an international trade with Indian, Arabs, and Chinese. There was even a small Chinese town in Banda, could be seen from some architectures which are remained up to today.

I’d like to highlight that Banda neira was the island where the Dutch landed for the very first time in 1569 for then change the rule of spices trade into domination, monopolistic, bloody genocide,and finally colonize a country which later on named as “I N D O N E S I A”.

Here in Banda Neira, Mohamad Hatta, later become the first Indonesian vice president, was exiled (1936-1942) along with other Indonesian prominent such as Sutan Sjahrir, dr. Tjipto Mangunkusumo, and Iwa K. Soemantri.

 

How to get to Banda Neira:
If you are from abroad, first you need to fly to Jakarta.
Fly to Ambon from Jakarta.
Taking a fast ferry from Pelabuhan Tulehu (port).
The fast ferry to Banda Neira is every Saturday and Tuesday (9AM), IDR 410,000 = USD 31.
The fast ferry returns to Ambon every Sunday and Wednesday (9AM), IDR 415,000.
The ferry journey is 7-8 hours.

There is also a slow ferry from Pelni and cheaper (IDR 105,000 = USD 8), it sails once in every two weeks. You can check its schedule here.

Pria Baya Di Jenewa

Pada suatu petang di tempat terbuka, saya terkesima melihat seorang pria baya menggelar alas mengenakan sarung mendirikan shalat di kaki langit Jenewa yang mulai remang-remang. Dasar turis, saya menggapai kamera diam-diam mengabadikan pemandangan di depan mata. Saya yang seagama, saya yang norak. Penduduk setempat yang kebanyakan tak peduli agama, kristen atau katolik tapi tak ke gereja, agnostic dan ateis terserah mau dipanggil apa, malah tak peduli dengan pria baya bersarung yang khusyuk dalam shalatnya.

Kenapa aku yang “beriman” justru terusik perjalanannya dengan shalat si pria baya? Ah hampir lupa, di negaraku ibadah harus di tempat yang tlah tersedia, tempat terbuka macam jalanan dan fasilitas umum lainnya, bukan tempat ibadah. Shalat pria baya itu tidak sah! Dan kenapa orang Jenewa tak menghentikan shalat pria baya itu!!! Betapa bodohnya…

Djakartaku, 9 Desember 2016.
Fit MS

dscf1610adscf1614a

 

 

Cara Perpanjang Paspor Online

Perpanjanglah paspor Anda sebelum tergesa-gesa! *true story

Secara umum, persyaratan untuk ke luar negeri maupun mengurus visa adalah masa berlaku paspor minimal 6 bulan. Bagi pemegang paspor Indonesia, untuk mengunjungi negara ASEAN syarat paspor adalah masa berlaku minimal 6 bulan, sedangkan untuk ke Eropa minimal 8 bulan. Begitulah peringatan yang muncul di layar tiket.com. *khusus negara Spanyol, masa berlaku paspor hanya minimal 3 bulan di atas masa tinggal di sana.

Jangan panik, cara mengurus perpanjangan paspor ataupun membuat paspor baru sebenarnya sangat gampang, asalkan kita punya waktu yang cukup, minimal 1 minggu sebelum tanggal keberangkatan (ini saja sudah bikin deg-degan), yaudah katakan saja 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan di tiket pesawat. Lebih dari 2 minggu, ya lebih baik bagi kesehatan, tidak jantungan menunggu paspor selesai.

A. Siapkan dokumen persyaratan:

  1. Fotokopi KTP
  2. Fotokopi Akte Kelahiran
  3. Fotokopi Kartu K eluarga
  4. Fotokopi Paspor lama

Tambahan: Bawa dua materai. Satu untuk formulir saat di kanim. Kedua untuk surat pernyataan jika Anda hendak tetap menyimpan paspor lama. Jika paspor lama Anda masih memiliki Visa yang valid (masih berlaku), maka otomatis paspor lama akan dikembalikan, namun tetap perlu mengisi surat pernyataan. *Surat pernyataan telah disediakan, tinggal isi nama dan data serta tanda tangan.

Tips: Persiapkan dokumen ini dari rumah. Di kanim ada layanan fotokopi dan jual materai, namun antriannya bisa panjang jika sedang ramai. Anda tentu tidak mau buang-buang waktu, kan!

Perhatikan: Keempat dokumen di atas wajib di fotokopi di kertas A4, termasuk fotocopy KTP biarkan saja di kertas A4, tidak perlu digunting. Catet!

Penting: Dokumen Asli dari keempat persyaratan di atas wajib dibawa serta sebagai bukti verifikasi, setelah itu langsung dikembalikan. Satu saja dokumen tidak ada, jangan harap aplikasi bisa diproses *true story.

B. Mendaftar secara online di Layanan Paspor Online

Langkah pertama klik Pra Permohonan Personal, dan ikuti saja langkah-langkahnya selanjutnya. Bingung? Tenang, ada Petunjuk Pengisian Layanan Paspor Onine yang lengkap dan mudah dipahami.

  • Entry Data Diri. Isi dengan teliti, data yang benar dan lengkap.
  • Verifikasi permohonan. Anda akan diminta memilih Kantor Imigrasi (Kanim) untuk submit aplikasi, wawancara dan foto biometrik. Direkomendasikan untuk memilih Kanim Jakarta Selatan, lebih sepi pendaftar (katanya), jadi urusan bisa lebih cepat selesai. Yakinlah nongkrong (baca: ngantri) di kantor imigrasi bukanlah hal yang menyenangkan.
  • Proses Pembayaran. Anda akan diminta membayar biaya paspor yang dapat dilakukan via ATM, internet banking, atau SMS banking. Anda akan diberikan nomor billing Simponi MPN G2. Apa sih Simponi itu? Simponi atau Sistem Informasi PNBP Online adalah fasilitas pembayaran/penyetoran PNBP dan penerimaan non anggaran yang memberi kemudahan bagi Wajib Bayar/Wajib Setor untuk membayar/menyetor PNBP dan penerimaan non anggaran melalui berbagai channel pembayaran seperti teller, ATM, EDC (Electronic Data Capture), maupun internet banking. Uang yang Anda bayar dijamin diterima oleh negara dan tidak dapat dilebih-lebihkan (overprice). Yang rajin dan kepo bisa baca artikel lengkapya di sini http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/setoran-pnbp-lebih-mudah-dan-cepat-simponi (narsis sama kantor sendiri boleh ya sekali-kali!)
  • Konfirmasi tanggal kedatangan. Setelah itu Anda akan menerima email berisi attachment file Tanda Terima Penerimaan, print itu dokumen ya!
  • Datang ke kanim. Dengan membawa print Tanda Terima Penerimaan dan Bukti Pembayaran jika membayar via internet banking, atau Bukti Setor Bank jika membayar di Teller Bank, atau print setoran jika membayar di ATM. Kedua dokumen ini wajib dibawa, dan jangan lupa di fotocopy dulu sebagai syarat pengambilan paspor nanti.

C. Datang ke kantor imigrasi (kanim)

Proses pendaftaran aplikasi di kantor imigrasi dimulai pukul 08.00-10.00 WIB. Lewat pukul 10 pagi, silahkan balik kanan dan datang esok hari. Datanglah sepagi mungkin, ba’da shubuh kalau perlu! Eh serius loh. Kenapa? Karena meski tertulis pukul 8 pagi, antrian di kanim sudah mengular jika Anda datang tepat pukul 8. Jadi datanglah pukul 6 pagi, jika ingin dapat antrian awal-awal. Meski demikian proses wawancara dan foto biometrik tetap dimulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Oke, mungkin ada yang bertanya, kalau tidak daftar online, kita bisa go show daftar manual di Kanim, tidak? Jawabannya Bisa, cuma antriannya alamaaaaakkk…puanjang bener. Begini sahabatku yang baik hatinya, antrian di kanim itu terbagi atas tiga, yaitu:

  1. Prioritas: lansia, balita, ibu hamil (mereka akan mendapat kode antrian 1, dan dipanggil pertama untuk wawancara, meskipun datangnya setelah Anda)
  2. Manual: yang daftar isi formulir dan bayar di tempat
  3. Online: yang daftar mengikuti cara poin B di atas

Ilustrasi:
Saya datang pukul 7 pagi, dengan kondisi bangku antrian sebagai berikut:
Prioritas: ada sekitar 30 orang
Manual: ada sekitar 40-50 orang
Online: hanya sekitar 10 orang, jumlahnya memang selalu lebih sedikit dari antrian manual, karena mungkin pendaftaran online masih dianggap membingungkan dan banyak yang gagap teknologi.
Antrian fotokopi: sekitar 15 orang. Karenanya persiapkanlah fotocopy dokumen dari rumah. Sebab setelah dari fotokopi masih banyak antrian yang harus Anda ikuti.

Pertama, antri untuk foto dan ambil nomor antrian penyerahan berkas.
Kedua, antri untuk verifikasi berkas.
Ketiga, antri untuk diwawancara dan foto paspor.
Selesai. Ke semua ini memakan waktu 1.5 jam. Ini karena saya datang pagi jam 7 dan mendaftar online. Jika sudah ramai, tanggung sendiri antriannya.

Anda telah berhasil mengurus aplikasi paspor, apabila sudah diwawancara dan difoto. Setelah itu Anda akan diminta datang 3 hari (dengan catatan sistem tidak bermasalah) kemudian untuk mengambil paspor baru. Jika sistem mengalami kendala, proses paspor bisa berlangsung hingga 5 hari, begitu kata petugas di kanim.

D. Mengambil Paspor Baru

Setelah diwawancara pada hari Selasa, maka tiga hari kemudian atau hari Jumat saya datang kembali dan paspor baru saya telah selesai. Proses pengambilan paspor mulai dari pukul 10.00-16.00 WIB.

Datanglah pukul 06.00 WIB untuk mendaftar nomor antrian awal, atau sekitar pukul 14.00  atau 15.00 saat antrian sudah mulai sepi.

Catatan pribadi:

Meski telah jauh lebih baik dari 5 tahun lalu saat saya membuat paspor pertama kali di Kemayoran, Jakarta Pusat yang memakan waktu seharian dan selesai 7 hari. Sekarang hanya 1.5 jam dan selesai 3 hari. Masih banyak hal yang dapat diperbaiki oleh Kantor Imigrasi untuk memperpendek proses aplikasi, hal-hal berikut yang menjadi perhatian saya:

  1. Saat ini ada tiga tahap, yakni pengambilan nomor antrian, verifikasi berkas sekaligus, dan wawancara. Tahapan pengambilan nomor antrian dan verifikasi berkas dapat digabung sekaligus.
  2. Masa urus perpanjang paspor dapat dipersingkat menjadi 1 hari. Saya sempat menghubungi biro jasa dan mereka dapat menjanjikan paspor baru selesai dalam 1 hari, hanya saja biayanya 5 kali lipat. Jika dengan biro jasa bisa 1 hari, maka sebenarnya paspor bisa selesai 1 hari, lantas kenapa harus memakan waktu 3 hari.
  3. Perpanjangan paspor seharusnya tidak perlu memakan waktu antri lama bahkan 3 hari proses. Apabila sistem database kantor imigrasi bagus, maka seharusnya paspor yang sudah diterbitkan datanya tercatat lengkap, sehingga proses verifikasi dari sana saja, kecuali terdapat perubahan data dari pemohon. Sayangnya saya harus mengikuti tata cara seperti membuat paspor pertama kali, baik dokumen maupun antrian.
  4. Saya mendaftar online dan telah mengisi data secara lengkap, eh sampai di kantor imigrasi disuruh isi formulir manual lagi. Yaelah, pengen gigit sepatu. Pendaftaran online hanya membantu memperpendek antrian saat di kanim, selebihnya sami miwon dengan manual.
  5. Terdapat 6 loket wawancara, namun yang buka hanya 2-3 loket, hal ini semakin memperlama antrian. Setelah pukul 9 ke atas, baru seluruh loket buka.
  6. Sebaiknya untuk antrian prioritas disediakan loket khusus, sehingga adil bagi yang sudah mengantri dari pagi sekali.
  7. Mohon banner dengan foto Pak Menteri dikurangi, xixi… Kita mah cuma perlu urus paspor mudah dan cepat, bukan foto Pak Menteri.
  8. Saya hendak mengacungkan jempol untuk alur pengurusan paspor yang lebih jelas. Ruang tunggu juga lebih baik. Loket wawancara dan foto sudah terbuka, tidak disekat-sekat seperti dulu. Namun, toiletnya boleh dong ditingkatkan lagi, hehe..

dscf0924

Cumlaude Studio, 8 Oktober 2016.
Fit MS